Koneksi Antara Sejarah, Filosofi, dan Nilai-Nilai Pendidikan Indonesia Menuju Merdeka Belajar

 

Diskriminasi pendidikan yaitu hanya rakyat keturunan bangsawan yang bisa menempuh pendidikan. Tahun 1854 berdiri sekolah dengan 3 kelas pembelajaran yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Kemudian pada tahun 1920 lahir cita-cita baru untuk perubahan radikal dalam pendidikan dan pengajaran. Kemudian tahun 1922 lahirlah sekolah Taman Siswa di Yogyakarta sebagai gerbang emas kemerdekaan dan kebebasan bangsa Indonesia.

Melaksanakan dan menerapkan “Merdeka Belajar”. Guru berperan sebagai “among” bagi peserta didik yang menuntun kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan lingkungan dan budaya sekitar yang melekat pada peserta didik, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan perkembangan zaman peserta didik. Kemampuan peserta didik yang awalnya belum baik maka dituntun menjadi lebih baik lagi.

Identitas manusia Indonesia memiliki nilai luhur yang kuat dan menjadi bagian penting dalam konteks pendidikan nasional. Ada tiga hakiki yang tegaskan sebagai nilai kemanusiaan khas Indonesia yaitu nilai kebhinekatunggalikaan, nilai-nilai Pancasila, dan nilai religiusitas. Nilai kebhinekaan adalah nilai yang menekankan untuk mengajarkan manusia Indonesia dalam menghargai perbedaan budaya, ras, bahasa, suku, dll. Nilai Pancasila dalam pendidikan sebagai jiwa bangsa Indonesia. Pendidikan di Indonesia diberikan kebebasan dan hak yang sama antarindividu. Nilai religiusitas dalam pendidikan adalah untuk menyatukan dua sisi insani yaitu jasmani dan rohani. Agama yang tidak didasari religiusitas maka akan kehilangan daya dan sekadar menjadi kegiatan sosial-politik tanpa visi kemanusiaan yang utuh.

Prinsip Ki Hadjar Dewantara bahwa guru menjadi pendidik yang mengarahkan kegiatan pembelajaran. Peserta didik diberi kebebasan dalam memahami materi sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Pendidikan memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menjadi manusia yang utuh dan mendorong terbentuknya budi pekerti pada peserta didik.

Berdasarkan semboyan Indonesia Bhineka Tunggal Ika bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang memiliki keberagaman latar belakang budaya, agama, suku, bahasa, tradisi, dll. Keberagaman ini akan memengaruhi kepribadian setiap individu. Sehingga dalam konteks pendidikan, seorang pendidik harus mengenal keberagaman setiap peserta didiknya agar memudahkan dalam transformasi pengetahuan. Hal ini dapat melalui pendidikan sosiokultural dengan cara pendidikan budi pekerti dan mengaitkan kearifan lokal agar sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu memerdekakan manusia secara lahir dan batin serta memperhatikan 3 nilai kemanusian khas Indonesia yaitu menjadi manusia Bhineka Tunggal Ika, manusia Pancasila, dan manusia religiusitas.

Comments

Popular posts from this blog

PERSPEKTIF PANCASILA SEBAGAI FONDASI PENDIDIKAN INDONESIA

PROSES PEMBELAJARAN YANG SESUAI DENGAN PANCASILA SEBAGAI FONDASI PENDIDIKAN INDONESIA

Identitas Manusia Indonesia dan Implementasinya dalam Rancangan Pembelajaran untuk Calon Guru Profesional